Selasa, 29 April 2014

MENGATASI FRAUD DALAM LAPORAN KEUANGAN

DEFINISI KECURANGAN (FRAUD) DAN KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN (FRAUDULENT FINANCIAL REPORTING)
FRAUD  (kecurangan) adalah tindakan ilegal yang dilakukan satu orang atau sekelompok orang secara sengaja atau terencana yang menyebabkan orang atau kelompok mendapat keuntungan, dan merugikan orang atau kelompok lain. Sementara FRAUDULENT FINANCIAL REPORTING   (kecurangan laporan keuangan) adalah salah saji atau pengabaian jumlah dan pengungkapan yang disengaja dengan maksud menipu para pemakai laporan.

o   Contoh Jenis Perusahaan Yang Melakukan FRAUD (Kecurangan)
Nama perusahaan
v  LEMBAGA KEUANGAN
v  TELEKOMUNIKASI
v  TRANSPORTASI
v  UTILITIES
v  ENERGI
o   Contoh Perusahaan Yang Pernah Melakukan FFR
v  ENRON
v  SATYAM
v  PT. KIMIA FARMA

2.      PROFIL FRAUD
Profil tidak menunjukan secara khusus ciri-ciri satu orang, melainkan memberi gambaran mengenai berbagai ciri dari suatu kelompok orang seperti : rentan umur, jenjang pendidikan, kelompok sosial (kelas atas, menengah, bawah), bahkan kelompok etnis dst.
Seperti :
§  Suka mengambil resiko
§  Egois
§  Ingin mengetahui (misalnya, ia mengambil waktu untuk menanyakan sistem informasi perusahaan dan berbagai kaitan antar sistem)
§  Keinginan untuk mengabaikan atau melanggar ketentuan dan sedapat mungkin mencari jalan pintas.
§  Bekerja sepanjang hari bahkan diakhir pekan, sehingga memberi kesan bahwa ia pekerja keras.
§  Dibawah tekanan dan penyendiri, meskipun pada saat yang sama ia mempunyai hubungan kerja yang erat dengan pemasok tertentu.
§  Termotivasi dengan ketamakan dan hadiah-hadiah yang bersifat materi.
§  Ia menganggap auditor, inspektur atau atasannya sebagai musuh.

3.      JENIS – JENIS FRAUD
1)      Employee Fraud (kecurangan pegawai)
Kecurangan yang dilakukan oleh pegawai dalam suatu organisasi kerja.
2)      Manajement Fraud (kecurangan manajemen)
Kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan menggunakan laporan keuangan/transaksi keuangan sebagai sarana fraud, biasanya dilakukan untuk mencurangi pemegang kepentingan (stakeholders) yang terkait organisasinya.
3)      Customer Fraud
Kecurangan yang dilakukan oleh konsumen/pelanggan, misalnya kecurangan oleh pihak kontraktor/konsultan terhadap satuan kerja proyek.
4)      E-Commerse Fraud
Kecurangan yang dilakukan akibat adanya transaksi melalui internet (misalnya pengadaan lelang melalui internet)
4.      SKEMA
1.      Satu dokumen seperti faktur pembelian seringkali dipakai untuk mengeluarkan uang kas lebih dari sekali untuk pembelian yang sama. Seringkali hal ini terjadi karena kebijakan badan usaha yang memperbolehkan dibayarnya pembelian berdasarkan tembusan dari faktur saja tanpa ada faktur aslinya.
2. Seringkali pemindahan dana atau aktiva dilakukan untuk menyamarkan adanya pengeluaran yang tidak diotorisasi. Pengeluaran dari kas kecil biasanya tidak memerlukan otorisasi, maka hal ini menimbulkan peluang terjadinya kecurangan.
3.      Pemberian komisi oleh pelanggan ke salesman atau penjualan dengan imbalan pemberian harga yang lebih murah merupakan hal yang seringkali terjadi di dunia praktik
4.      Hal yang sering terjadi pada perusahaan keluarga dimana seringkali perusahaan dirugikan bukan karena alasan bisnis tapi karena alasan lainnya seperti keluarga, kepentingan anak dan seterusnya.
5.  Seringkali pembayaran dengan chek atau giro yang dilakukan oleh pelanggan tidak dicantumkan nama kepada siapa cek atau bilyet giro tersebut dibayar sehingga oleh karyawan perusahaan bisa dicatat sebagai utang karyawan dan dicairkan oleh pribadi tersebut. Dalam hal ini karyawan bisa memakai uang perusahaan tanpa melalui otorisasi.
6.    Tidak mencatat pendapatan, hal ini akan mudah terjadi bila bagian pencatatan merangkap dengan bagian penerimaan kas ataupun bagian penjualan.
7.    Menyembunyikan penagihan piutang hal ini seringkali dikenal didunia akuntansi dengan istilah lapping. Dimana tagihan hari ini dari pelanggan A akan dipakai terlebih dahulu secara pribadi dan bila nanti saatnya menagih pelanggan B maka akan dimasukan atau diakui sebagai penagihan pelanggan A dan seterusnya. Prinsip yang dipakai disini adalah tutup lubang gali lubang.
8.  Pencurian material atau aktiva yang mempunyai nilai tinggi selalu rawan akan adanya pencurian. Hal lain yang perlu diperhatikan juga secara khusus adalah adanya “SLOW MOVING GOODS” yaitu barang yang sudah lama tidak keluar dari gudang.
9.  Penyalahgunaan kartu kredit perusahaan yang seringkali untuk mempermudah kerja perusahaan mempunyai kredit card karena pencatatan atas kredit card baru diterima dikemudian hari, maka hal ini menimbulkan peluang bagi pelaku kecurangan untuk memakainya dalam kepentingan pribadi.
 
5.      SURVEY INDEX FRAUD DI INDONESIA
v  INSTASI PEMERINTAH
v  Pengadaan Barang Jasa
v  Perijinan
v  Suap

6.      TANDA – TANDA FFR
·         Modal kerja yang tak cukup.
·         Perputaran yang cepat dalam posisi keuangan.
·         Pengunaan pemasok sendiri.
·         Biaya perjalanan berlebihan.
·         Pemindahan dana antara perusahaan afiliasi atau antar divisi.
·         Pergantian auditor eksternal.
·         Biaya consultant atau free yang belebihan.
·         Kekurangan atau hilangnya aktiva.
·         Penurunan kinerja.
·         Pengendalian manajemen dilakukan oleh segelintir atau sedikit orang saja.
·         Seseorang menangani hamper semua transaksi yang penting.
·         Kesulitan penagihan piutang usaha.
·         Penyelesaian pelaporan keuangan yang terlambat.
·         Bukti tembusan yang digunakan sebagai dasar pembayaran kreditur.
·         Manajemen senior sangat menguasai atau mendominasi.
·         Pendapatan turun dibandingkan tahun sebelumnya secara drastic.
·         Kondisi usaha yang tidak sehat.
·         Struktur organisasi yang rumit.
·         Tingkat perputaran tenaga kerja yang tingi terutama di posisi keuangan.
·         Adanya kesalahan – kesalahan yang tidak kunjung diperbaiki.
·         Kesulitan dalam perolehan bukti audit penolakan atau penggantin yang sering terhadap pemeriksaan internal

7.      TANDA – TANDA ORANG CURANG
1)      Tekanan keuangan.
2)      Terlibat penyalahgunaan ataupun perjudian.
3)      Telibat obat – obatan atau alcohol.
4)      Pembelian yang berlebihan atau gaya hidup yang mahal.
5)      Keluhan – keluhan yang berlebihan terhadap manajemen atau perusahaan.
6)      Transaksasi terhadap pihak yang tidak independen.
7)      Peningkatan stress.
8)      Tekanan internal termasuk tekanan manajemen untuk memenuhi anggaran.
9)      Kerja lembur yang berlebihan dan tidak pernah mengambil cuti 

8.      CARA MENDETEKSI FRAUD
§      Analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam presentase.
Sebagai contoh, adanya kenaikan presentase hutang niaga dengan total hutang dari rata-rata 28% menjadi 52% dilain pihak adanya penurunan presentase biaya penjualan dengan total penjualan dari 20% menjadi 17% mungkin dapat menjadi satu dasar adanya pemeriksaan kecurangan.
§     Analisis Horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis presentase-presentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan.
Sebagai contoh adanya kenaikan penjualan sebesar 80% sedangkan harga pokok mengalami kenaikan 140%. Dengan asumsi tidak ada pembelian fiktif, penggelapan, atau transaksi illegal lainnya.
§     Analisis Rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam laporan keuangan.
Sebagai contoh adalah current ratio, adanya penggelapan uang atau pencurian kas dapat menyebabkan turunnya perhitungan rasio tersebut.

9.      Peran Auditor Intern dalam Menghadapi Resiko Kecurangan Perusahaan
Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan auditor intern diharapkan dapat memberikan kontribusinya pada perbaikan pengelolaan risiko entitas, namun perlu pula dipahami bahwa tidak semua entitas memiliki struktur pengelolaan risiko, bila demikian, bagaimana peran auditor intern terhadap proses pengelolaan risiko?
Pengelolaan risiko merupakan tanggung jawab manajemen. Untuk mencapai tujuan entitas, manajemen harus meyakini bahwa proses pengelolaan risikonya telah berjalan dan berfungsi dengan baik. Dalam hal ini, auditor intern membantu manajemen melalui audit, review, evaluasi, pelaporan dan rekomendasi kecukupan dan efektivitas proses pengelolan risiko. Manajemen bertanggung jawab terhadap pengelolaan risiko perusahaan dan pengendaliannya. Sementara itu, auditor intern berperan sebagai konsultan yang membantu mengidentifikasi, mengevaluasi, menerapkan metodologi pengelolaan risiko, dan memberikan masukan untuk perbaikan sistem pengendalian risiko.
Apabila dalam suatu perusahaan belum memiliki struktur pengelolaan risiko, auditor intern memberikan pemahaman kepada manajemen mengenai perlunya pengelolaan risiko. Jika dikehendaki, audit intern dapat proaktif memberikan bantuan kepada manajemen dalam pembentukan struktur pengelolaan risiko. Namun perlu perlu pula difahami bahwa peran proaktif tersebut berbeda dengan peran sebagai pemilik risiko (ownership of risks).
Dengan kata lain, auditor intern dapat memfasilitasi proses pengelolaan risiko, namun tidak memiliki atau bertanggung jawab untuk mengidentifikasikan, mengambil tindakan untuk meredakan risiko dan memonitor risiko-risiko tersebut. Dalam penaksiran risiko (risk assessment) terdapat tiga konsep penting yaitu tujuan (goal), risiko (risk), dan pengendalian (control). Tujuan merupakan outcome yang diharapkan dapat dihasilkan oleh suatu proses atau kegiatan. Risiko adalah kemungkinan terjadinya suatu kejadian/tindakan yang dapat menggagalkan atau berpengaruh negative terhadap kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuan entitasnya, sedangkan pengendalian merupakan elemen–elemen perusahaan yang mendukung manajemen dan karyawan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Auditor intern mempunyai peran dalam membantu memastikan bahwa manajemen telah melakukan pengelolaan risiko perusahaan secara memuaskan. Sehubungan dengan peran tersebut, auditor intern melakukan identifikasi dan evaluasi risiko signifikan yang dihadapi perusahaan. Untuk keperluan ini auditor intern perlu melakukan penaksiran risiko (risk assessment) terhadap kecukupan proses pengelolaan risiko yang dilakukan oleh manajemen.

10.  Resiko dan Peranan Auditor Intern
Risiko secara umum diartikan sebagai suatu kejadian/kondisi yang berkaitan dengan hambatan dalam pencapaian tujuan. Pengertian risiko berkaitan dengan ”adanya tujuan”, sehingga apabila tidak ada tujuan yang ditetapkan maka tidak ada risiko yang harus dihadapi.
Jadi, jika tujuan auditor intern adalah untuk mendukung pencapaiantujuan yang ditetapkan instansi, maka auditor intern dalam penugasan auditnya juga harus memperhatikan seluruh risiko yang mungkin dihadapi oleh perusahaan dalam rangka mencapai tujuannya. Dengan mengenali risiko inilah auditor intern akan mampu memberikan masukan kepada auditi sehingga auditi dapat meminimalisasi dampak risiko.
Manajemen harus mengelola kegiatan perusahaan sedemikian rupa untuk menjamin bahwa tujuan perusahaan akan tercapai. Pengelolaan risiko ini dilakukan dengan membangun pengendalian intern. Dengan kata lain pengendalian intern merupakan suatu proses untuk mengelola risiko. Oleh karena itu, auditor dalam setiap penugasan audit harus mempertimbangkan terhadap risiko-risiko yang ada.
Berkaitan dengan risiko-resiko yang mungkin terdapat dalam perusahaan,  maka tugas auditor intern diantaranya :
1)      Mengidentifikasi risiko-risiko yang akan dihadapi,
2)      Mengukur atau menentukan besarnya risiko tersebut,
3)      Mencari jalan untuk menghadapi dan menanggulangi risiko,
4)  Menyusun strategi untuk memperkecil maupun mengendalikan risiko yang meliputi langkah-langkah pengoordinasian pelaksanaan penanggulangan risiko,
5)      Serta mengevaluasi program penanggulangan risiko yang telah dibuatnya.

Sehingga, dapat dikatakan jika auditor memiliki setidaknya 3 peranan dalam kecurangan, antara lain:
a.       Pencegahan Kecurangan (Fraud Prevention),
b.      Pendeteksian Kecurangan (Fraud Detection), dan
c.       Penginvestigasian Kecurangan (Fraud Investigation).

Di samping itu, dalam melakukan audit, auditor akan berhadapan pula dengan kemungkinan disajikannya laporan keuangan atau pertanggungjawaban manajemen yang dengan sengaja disusun tidak benar, untuk kepentingan pribadi berbagai anggota manajemen ataupun pimpinan atau pihak-pihak berkepentingan dalam suatu unit perusahaan. Dengan berbagai motif yang melatarbelakanginya, misalnya untuk menutupi penggelapan besar-besaran terhadap aset/kekayaan perusahaan.

11.  Apa itu (Resiko) Kecurangan?
Untuk lebih berhasilnya peran auditor dalam pencegahan dan pendeteksian adanya kecurangan, sebaiknya internal auditor perlu memahami kecurangan dan jenis-jenis kecurangan yang mungkin terjadi dalam perusahaan. G.Jack Bologna, Robert J.Lindquist dan Joseph T.Wells mendifinisikan kecurangan “ Fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver ( 1993,hal 3 )” yaitu kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan maksud jahat. Dan dari tindakan jahat tersebut ia memperoleh manfaat dan merugikan korbannya secara financial. Biasanya kecurangan mencakup tiga langkah yaitu (1) tindakan/theact., (2) Penyembunyian/the concealment dan (3) konversi/the conversion Misalnya pencurian atas harta persediaan adalah tindakan, kemudian pelaku akan menyembunyikan kecurangan tersebut misalnya dengan membuat bukti transaksi pengeluaran fiktif.
Selanjutnya setelah perbuatan pencurian dan penyembunyian dilakukan, pelaku akan melakukan konversi dengan cara memakai sendiri atau menjual persediaan tersebut. Pada dasarnya terdapat dua tipe kecurangan, yaitu eksternal dan internal. Kecurangan eksternal adalah kecurangan yang dilakukan oleh pihak luar terhadap suatu perusahaan/entitas, seperti kecurangan yang dilakukan pelanggan terhadap usaha; wajib pajak terhadap pemerintah. Kecurangan internal adalah tindakan tidak legal dari karyawan, manajer dan eksekutif terhadap perusahaan tempat ia bekerja.  
Berkaitan dengan itu Association of Certified Fraud Examinations (ACFE- 2000), salah satu asosiasi di USA yang mendarmabaktikan kegiatannya dalam pencegahan dan pemberantasan kecurangan, mengkategorikan kecurangan dalam tiga kelompok sebagai berikut:
a.      Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud)
Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau kecurangan non financial.

b.      Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation)
Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam ‘Kecurangan Kas’ dan ‘Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya’, serta pengeluaran-pengeluaran biaya secara curang (fraudulent disbursement).

c.       Korupsi (Corruption)
Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE, bukannya pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of interest), suap (bribery), pemberian illegal (illegal gratuity), dan pemerasan (economic extortion).

12.  Pencegahan Kecurangan
Peran utama dari internal auditor sesuai dengan fungsinya dalam pencegahan kecuarangan adalah berupaya untuk menghilangkan atau mengeleminir sebab- sebab timbulnya kecurangan tersebut. Karena pencegahan terhadap akan terjadinya suatu perbuatan curang akan lebih mudah daripada mengatasi bila telah terjadi kecurangan tersebut. Pada dasarnya kecurangan sering terjadi pada suatu suatu entitas apabila :
ü  Pengendalian intern tidak ada atau lemah atau dilakukan dengan longgar dan tidak efektif.
ü  Pegawai dipekerjakan tanpa memikirkan kejujuran dan integritas mereka.
ü Pegawai diatur, dieksploitasi dengan tidak baik, disalahgunakan atau ditempatkan dengan tekanan yang besar untuk mencapai sasaran dan tujuan keuangan yang mengarah tindakan kecurangan.
ü  Model manajemen sendiri melakukan kecurangan, tidak efsien dan atau tidak efektif serta tidak taat terhadap hukum dan peraturan yang berlaku..
ü Pegawai yang dipercaya memiliki masalah pribadi yang tidak dapat dipecahkan , biasanya masalah keuangan, kebutuhan kesehatan keluarga, gaya hidup yang berlebihan.
ü  Industri dimana perusahaan menjadi bagiannya, memiliki sejarah atau tradisi kecurangan.
Pencegahan kecurangan pada umumnya adalah aktivitas yang dilaksanakan manajemen dalam hal penetapan kebijakan, sistem dan prosedur yang membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan sudah dilakukan dewan komisaris, manajemen, dan personil lain perusahaan untuk dapat memberikan keyakinan memadai dalam mencapai 3 ( tiga ) tujuan pokok yaitu ; keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi serta kepatuhan terhadap hukum & peraturan yang berlaku. ( COSO: 1992).
Untuk hal tersebut , kecurangan yang mungkin terjadi harus dicegah antara lain dengan cara –cara berikut :
1.      Membangun struktur pengendalian intern yang baik
Dengan semakin berkembangnya suatu perusahaan, maka tugas manajemen untuk mengendalikan jalannya perusahaan menjadi semakin berat. Agar tujuan yang telah ditetapkan top manajemen dapat dicapai, keamanan harta perusahaan terjamin dan kegiatan operasi bisa dijalankan secara efektif dan efisien, manajemen perlu mengadakan struktur pengendalian intern yang baik dan efektif mencegah kecurangan.

2.      Mengefektifkan aktivitas pengendalian
(1)    Review Kinerja
Aktivitas pengendalian ini mencakup review atas kinerja sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran, prakiraan, atau kinerja priode sebelumnya, menghubungkan satu rangkaian data yang berbeda operasi atau keuangan satu sama lain, bersama dengan analisis atas hubungan dan tindakan penyelidikan dan perbaikan; dan review atas kinerja fungsional atau aktivitas seseorang manajer kredit atas laporan cabang perusahaan tentang persetujuan dan penagihan pinjaman.

(2)   Pengolahan informasi
Berbagai pengendalian dilaksanakan untuk mengecek ketepatan, kelengkapan, dan otorisasi transaksi. Dua pengelompokan luas aktivitas pengendalian sistem informasi adalah pengendalian umum ( general control ) dan pengendalian aplikasi ( application control).

(3)   Pengendalian fisik
Aktivitas pengendalian fisik mencakup keamanan fisik aktiva, penjagaan yang memadai terhadap fasilitas yang terlindungi dari akses terhadap aktiva dan catatan; otorisasi untuk akses ke program komputer dan data files; dan perhitungan secara periodic dan pembandingan dengan jumlah yang tercantum dalam catatan pengendali.

3.      Meningkatkan kultur perusahaan
Meningkatkan kultur perusahaan dapat dilakukan dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang saling terkait satu sama lain agar dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasikan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.

4.      Mengefektifkan fungsi internal audit
Walaupun internal auditor tidak dapat menjamin bahwa kecurangan tidak akan terjadi, namun ia harus menggunakan kemahiran jabatannya dengan saksama sehingga diharapkan mampu mendeteksi terjadinya kecurangan dan dapat memberikan saran-saran yang bermafaat kepada manajemen untuk mencegah terjadinya kecurangan.resiko yang dihadapi perusahaan diantaranya adalah Integrity risk, yaitu resiko adanya kecurangan oleh manajemen atau pegawai perusahaan, tindakan illegal, atau tindak penyimpangan lainnya yang dapat mengurangi nama baik / reputasi perusahaan di dunia usaha, atau dapat mengurangi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adanya resiko tersebut mengharuskan internal auditor untuk menyusun tindakan pencegahan / prevention untuk menangkal terjadinya kecurangan sebagaimana diuraikan dalam bagian sebelumnya. Namun, pencegahan saja tidaklah memadai, internal auditor harus memahami pula bagaimana cara mendeteksi secara dini terjadinya kecurangan-kecurangan yang timbul. Tindakan pendeteksian tersebut tidak dapat di generalisir terhadap semua kecurangan. Masing-masing jenis kecurangan memiliki karakteristik tersendiri, sehingga untuk dapat mendeteksi kecurangan perlu kiranya pemahaman yang baik terhadap jenis-jenis kecurangan yang mungkin timbul dalam perusahaan.

13.  Cara Penilaian Resiko Kecurangan
Auditor tidak menjamin bahwa semua fraud terdeteksi, tetapi harus melaksanakan kemahiran profesionalnya di dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil prosedur auditnya, sehingga dapat memperoleh keyakinan yang memadai bahwa kekeliruan, ketidakberesan, dan ketidaktaatan yang material dapat dideteksi. Beberapa standar audit yang mewajibkan auditor untuk mendeteksi fraud antara lain terdapat pada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (SA – APIP).
Sejalan dengan tanggung jawab profesi auditor serta dalam rangka memenuhi harapan masyarakat tersebut, maka dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan auditnya, auditor harus mempertimbangkan risiko kecurangan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka auditor hendaknya menempuh langkah berikut berkaitan dengan risiko kecurangan :
1.   Mengenali kemungkinan kecurangan terkait dengan kegiatan/ substansi masalah/hal yang akan diaudit.
Langkah tersebut dapat dilakukan dengan pedoman sebagai berikut :
a.   Kelompokkan kegiatan/substansi masalah/hal yang akan diaudit dalam kategori sesuai keperluan penaksiran.
b.  Rumuskan kemungkinan kecurangan yang dapat terjadi dari setiap bahasan dalam kategori yang ditetapkan. Kemungkinan kecurangan tersebut disusun sebanyak yang dapat didaftar.

2.  Menetapkan pengendalian yang seharusnya ada, dalam rangka memastikan bahwa risiko kecurangan di atas tidak akan terjadi.
Langkah tersebut dilakukan dengan pedoman sebagai berikut :
a.   Pengendalian yang seharusnya ada disusun berdasarkan risiko yang diidentifikasi pada langkah nomor 1.
b.    Atas satu risiko kecurangan yang diidentifikasi dapat diidentifikasi lebih dari satu prosedur pengendalian yang seharusnya tersedia.
c.   Demikian pula sebaliknya, satu prosedur pengendalian yang seharusnya ada mungkin akan efektif mencegah lebih dari satu risiko kecurangan.
d. Dasar yang digunakan untuk menilai risiko kecurangan adalah daftar prosedur pengendalian yang seharusnya tersedia, bukan berdasarkan risiko kecurangan yang mungkin terjadi. Penilaian didasarkan pada tersedia atau tidaknya prosedur pengendalian, serta efektif atau tidaknya prosedur pengendalian tersebut.

3.      Mengidentifikasi apakah pengendalian yang seharusnya ada tersebut benar-benar diterapkan atau tidak diterapkan oleh perusahaan.
Langkah ini dilakukan dengan pedoman sebagai berikut :
a.   Menilai apakah pengendalian yang seharusnya ada benar-benar diterapkan atau tidak. Penilaian ini berdasarkan hasil pengamatan atau cara lain atas pelaksanaan kegiatan.
b. Penilaian ini harus memberikan jawaban “ya” atau “tidak” atas setiap prosedur pengendalian yang diidentifikasi, bukan atas risiko kecurangan yang mungkin terjadi.
c.  Penekanan dalam penilaian ini adalah pada efektivitas prosedur pengendalian, bukan pada tersedianya rancangan pengendalian.

4.      Menetapkan tingkat kemungkinan terjadinya (likehood) serta dampak (consequences) kecurangan tersebut, untuk menetapkan ranking risikonya.
Langkah ini dilakukan dengan pedoman sebagai berikut :
a.   Penaksiran tingkat risiko dilakukan dengan memberikan skor 1 – 5 dengan ketentuan skor 1 untuk risiko minimum dan skor 5 untuk risiko maksimum.
b.  Penaksiran tingkat risiko hendaknya telah menggabungkan antara tingkat kemungkinan terjadinya dan dampak dari risiko tersebut.
c.   Penetapan ranking risiko dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh nilai risiko dari satu kategori/sub kategori dan kemudian membaginya dengan jumlah butir prosedur pengendalian yang seharusnya ada sehingga diperoleh nilai rata-rata risiko kategori/sub kategori yang bersangkutan. Kategori/sub kategori yang mendapat nilai rata-rata risiko tinggi menunjukkan bahwa kategori/sub kategori tersebut rawan risiko kecurangan.

5.      Memilih risiko kecurangan yang akan di dalami dalam kegiatan audit.
Langkah ini dilakukan dengan memerhatikan hasil perhitungan penetapan ranking risiko yang dihasilkan dari langkah nomor 4 tersebut di atas.
Pedoman yang dapat digunakan, berkaitan dengan risiko kecurangan, adalah bahwa audit hendaknya fokus pada risiko kecurangan pada kategori/sub kategori dengan skor risiko tinggi (misalnya skor rata-rata nilai risiko kategori/sub kategori > 3.5).
Referensi :

Selasa, 22 April 2014

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI METODE HARGA PEROLEHAN / HARGA POKOK (METODE COST)


Metode perolehan (cost method) adalah metode pencatatan investasi yang pada awal perolehan investasi, investor mencatat investasi sebesar biayanya, dividen maupun distribusi laba dicatat sebagai penghasilan, namun apabila dividen yang diterima melebihi bagian investor atas laba investee dipandang sebagai pemulihan investasi dan dicatat sebagai pengurang investasi.


Tujuan utama dari penyusunan laporan keuangan yang dikonsoidasi adalah untuk menunjukkan posisi keuangan dan hasil usaha dari berbagai perusahaan afiliasi yang merupakan satu kesatuan.


Penyajian - penyajian rekening investasi dalam laporan keuangan perusahaan induk, bila memakai metode harga perolehan maka perubahan-perubahan netto didalam hak-hak pemegang saham yang berasal dari (pembagian) laba perusahaan anak sejak posisi control dicapai harus disajikan secara terpisah didalam neraca. Jika sebagian dari perubahan netto itu terjadi dalam periode akuntansi yang sedang berjalan, maka harus dilaporkan didalam laporan Rugi Laba (Perusahaan Induk).  

Selasa, 15 April 2014

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI METODE EQUITY DAN PROSEDUR AKUNTANSI METODE EQUITY

Kepemilikan saham 20% - 50% dan kepemilikan saham 50% disarankan untuk menggunakan metode ekuitas karena kepemilikan saham secara mayoritas dapat mengendalikan perusahaan anak tetapi dalam kepemilikan saham di atas 50% perusahaan induk diharuskan menyusun laporan keuangan konsolidasi. 

Perusahaan induk dan anak adalah 1 kegiatan usaha, maka perubahan terhadap modal perusahaan anak harus di akui dan dicatat untuk mengetahui pekembangan perusahaan.


Konsep Dasar Metode Equity 
Pada dasarnya memandang investasi induk perusahaan terhadap anak perusahaan sebagai suatu penyertaan modal sehingga jika aktiva bersih anak perusahaan berubah karena kegiataan operasionalnya. Secara otomatis akan menyebabkan perubahan pada nilai investasi induk perusahaan.

Prosedur Pencatatan Investasi Metode Equity 
jika laba maka perusahaan induk akan mendebit rekening "investasi saham pada perusahaan anak" dan mengkredit "laba yang ditahan".
Sedangkan jika rugi perusahaan induk akan mendebit "laba yang ditahan" dan mengkredit "investasi saham pada perusahaan anak"

Rabu, 09 April 2014

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI

Laporan keuangan konsolidasi adalah suatu laporan yang menyajikan posisi keuangan dan hasil operasi dari sebuah group perusahaan dengan anak perusahaan..
Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang objektif dan sesuai dengan keseluruhan posisi dan aktivitas dari suatu perusahaan.
Manfaatnya:

  • Dapat memberikan gambaran yang jelas tentang total sumber daya perusahaan.
  • Dapat memberikan informasi terkini bagi manajemen induk perusahaan.
Metode-Metode penyusunan laporan keuangan konsolidasi:
  • Konsolidasi dengan metode Equitas
  • Konsolidasi dengan metode Biaya


Selasa, 01 April 2014

KONSEP AKUNTANSI DARI PENGGABUNGAN USAHA DAN AKUNTANSI UNTUK INVESTASI DALAM SAHAM

Menurut PSAK No. 22 tentang Penggabungan Usaha, 
    "Penggabungan usaha adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan perusahaan lain atau memperoleh kendali atas aktiva dan operasi perusahan lain"

Metode akuntansi yang digunakan dalam penggabungan usaha
  •  Metode Penyatuan Kepemilikan adalah kepemilikan perusahaan-perusahaan yang bergabung adalah satu kesatuan dan secara relatif tetap tidak berubah pada entitas akuntansi yang baru.
  •  Metode Pembelian adalah suatu transaksi yang salah satu entitas memperoleh aktiva bersih dari perusahaan-perusahaan lain yang bergabung.
AKUNTANSI INVESTASI SAHAM  

Investasi dalam saham artinya sebuah perusahaan memiliki kepemilikan di perusahaan lain melalui kepemilikan sahamnya. Jika jumlah kepemilikan kurang dari 50% maka perusahaan dikatakan memiliki pengendalian atau kontrol terhadap perusahaan tersebut 

 Metode Penilaian Investasi
 
  •      Metode biaya                                                                                                                          Dengan menggunakan metode biaya, investasi dicatat sebesar biaya perolehan.
  •     Metode ekuitas                                                                                                                        Dengan menggunakan metode ekuitas pemerintah mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan ditambah atau dikurangi sebesar bagian laba atau rugi pemerintah setelah tanggal perolehan.
  •     Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan                                                                    Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan digunakan terutama untuk kepemilikan yang akan dilepas/dijual dalam jangka waktu dekat
 

Senin, 24 Maret 2014

PENGGABUNGAN BADAN USAHA & KONTRIBUSI RELATIF PERUSAHAAN YANG BERGABUNG

           Penggabungan Badan Usaha adalah suatu usaha yang menggabungkan suatu perusahaan
dengan satu atau lebih perusahaan lain kedalam satu kesatuan ekonoi sebagai upaya untuk memperluas usaha.

Manfaat Dan Tujuan Usaha :
  • Pemasaran yang lebih luas
  • Organisasi yang lebih kuat
  • Volume penjualan yang lebih tinggi
  • Produksi dan Manajemen yang lebih baik
  • Penghematan Biaya melalui operasi yang ekonomis dan efisien
  • Kemampuan mengumpulkan modal yang lebih besar
3 Bentuk Penggabungan Usaha :
  1. MERGER / Statutary Merger Minimal adalah penggabungan usaha dengan cara satu perusahaan membeli perusahaan lain yang kemudian perusahaan yang dibelinya tersebut menjadi perusahaannya/dibubarkan. A+B+C+A
  2. KONSOLIDASI / Statutary Consolidation adalah bentuk lain dari merger, penggabungan usaha dengan cara satu perusahaan bergabung dengan perusahaan lain membentuk perusahaan baru.A+B+C=Z
  3. AKUISISI adalah membeli kepemilikan perusahaan masih berjalan sendiri-sendiri. A+B=A+B
       *AFILIASI adalah penggabungan usaha dengan cara membeli sebagian besar saham/seluruh saham perusahaan lain untuk memperoleh hak pengendalian.

nilai buku adalah nilai asset perusahaan yang tertera pada catatan atau informasi pada umumnya.
nilai wajar adalah harga yang berlaku umum dipasaran yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran atas harta tersebut.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan dasar kontribusi relatif :
-perusahaan mengalami kebangkrutan 

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Arti penting analisis laporan keuangan
Arti penting analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1.   Bagi pihak manajemen: untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi, pengembangan karier
2.   Bagi pemegang saham: untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan, keamanan investasi.
3.   Bagi kreditor: untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang beserta bunganya.
4.   Bagi pemerintah: pajak, persetujuan untuk go public.
5.   Bagi karyawan: Penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja

PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang berisi data-data keuangan. Data-data keuangan ini digunakan untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.
Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut Sawir (2005:2) adalah sebagai berikut:
a.   menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi,
b.   laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu,
c.   laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Manfaat Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk mendapatkan informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti jika diperbandingkan dan dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang dapat mendukung keputusan yang diambil. Menurut Statement of Financial Accounting Concept No. 1, tujuan dan manfaat laporan keuangan adalah:
1)   Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi yang dapat membantu investor, kreditor dan pengguna lainnya yang potensial dalam membuat keputusan lain yang sejenis secara rasional.
2)   Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi yang dapat membantu investor, kreditor, dan pengguna lain yang potensial dalam memperkirakan jumlah waktu dan ketidakpastian penerimaan kas di masa yang akan datang yang berasal dari pembagian deviden ataupun pembayaran bunga dan pendapatan dari penjualan.
3)   Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi tentang sumber daya ekonomi perusahaan. Klaim atas sumber daya kepada perusahaan atau pemilik modal.
4)   Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi tentang prestasi perusahaan selama satu periode. Investor dan kreditor sering menggunakan informasi masa lalu untuk membantu menaksir prospek perusahaan.
Menurut PSAK (2004) pihak-pihak yang memanfaatkan laporan keuangan adalah (IAI, 2004) :
1)   Investor. Penanam modal berisiko dan penasehat mereka berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
2)   Karyawan. Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja.
3)   Pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
4)   Pemasok dan kreditor usaha lainnya. Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
5)   Pelanggan. Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.
6)   Pemerintah. Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaanya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena ini berkepentingan dengan aktivitas perusahaan, mereka menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
7)   Masyarakat. Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan(trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.
KETERBATASAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
1.   Laporan keuangan bersifat umum dan bukan dimaksudkan memenuhi kebutuhan pihak tertentu. Informasi disajikan untuk dapat digunakan semua pihak. Sehingga terpaksaselalu meperhatikan semua pihak pemakai yang sebenarnya mempunyai perbedaan kepentingan.
2.   Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunan ttafsiran dan berbagai pertimbangan dalam memilih alternative dari berbagai pilihan yang ada yang sama- sama dibenarkan tetapi menimbulkan perbedaan angka laba maupun asset
3.   Akuntansi tidak mencakup informasi yang tidak material. Demikian pula penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh yang material terhadap kelayakan laporan keuangan. Batasan terhadap istilah dan jumlah agar kabur.
4.   Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengeni penilaian suatu pos maka lazimnya dipilih alternative yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil. Dalam keadaan lain disebutkan jika ada indikasi rugi maka harus dicatat tetapi jika ada indikasi laba tidak dicatat. Sehingga ada holding gain yang tidak diungkapkan.
5.   Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis dan pemakai laporan diasumsikan memahami baasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
6.   Akuntansi didominasi informasi kuantitatif. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantitatifkan umumnya diabaikan. Namun bisa saja informasi kuatitatif dapat gambaran atau indiksi informasi kualitatif.
7.  Perubahan dalam tenaga beli uang jelas ada akan tetapi hal ini tidak  tergambar dalam laporan keuangan
Kelemahan analisis laporan keuangan
1.   Analisis laporan keuangan didasarkan pada laporan keuangan oleh karenanya kelemahan laporan keuangan harus selalu diingat agar kesimpulan dari analisis itu tidak salah.
2.   Objek analisis laporan keuangan hanya laporan keuangan. Untuk menilai suatu laporan keuangan tidak cukup hanya dari angka-angka laporan keuangan. Kita juga harus melihat aspek lainnya seprti tujuan perusahaan, situasi ekonomi, situasi industri, gaya manajemen, budaya perusahaan dan budaya masyarakat.
3.  Objek analisis adalah data histories yang menggambarkan masa laud an kondisi ini bisa berbeda dengan kondisi masa depan.
Jenis Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan biasanya terdiri:
a.   Neraca: laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu menunjukkan posisi keuangan (aktiva, utang dan modal) pada saat tertentu. Tujuan neraca adalah menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender (misalnya pada tanggal 31 Desember 200x)
b.   Laporan laba rugi: suatu laporan yang menunjukkan pendapatan dari penjualan, berbagai biaya, dan laba yang diperoleh oleh perusahaan selama periode tertentu
c.   Laporan saldo laba: menunjukkan perubahan laba ditahan selama periode tertentu.
d.   Laporan arus kas: Menujukkan arus kas selama periode tertentu.
e.  Catatan atas laporan keuangan: berisi rincian neraca dan laporan laba rugi, kebijakan akuntansi, dan lain sebagainya